News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Mirisnya “Reformasi” Hisab – Ormas Modern Merongrong Sunnah Nabi, Memecah Umat Demi Derajat Kemiringan dan Ego Astronomi!

Mirisnya “Reformasi” Hisab – Ormas Modern Merongrong Sunnah Nabi, Memecah Umat Demi Derajat Kemiringan dan Ego Astronomi!

Hati ini benar-benar miris melihat sebagian ormas Islam di negeri ini yang gigih menggiring penentuan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ke arah hisab semata. Padahal Rasulullah ﷺ secara tegas mengajarkan rukyah – melihat hilal dengan mata kepala sendiri – demi kemudahan bagi umat. Bukan untuk menyusahkan!


Tadinya, selama 14 abad penuh, umat Islam bersatu padu dalam rukyah. Tidak ada perpecahan. Tidak ada sidang isbat bertele-tele. Tidak ada “kriteria imkan rukyah” yang ribet. 


Para sahabat, tabiin, bahkan para imam ahli hadits seperti Imam Bukhari dan Muslim – yang hidup di era bangsa Arab yang sudah mahir hisab dan astronomi – tidak pernah mengamalkan hisab untuk menentukan awal bulan. 


Mengapa? Karena Nabi ﷺ sendiri bersabda terkait penentuan hilal: “Nahnu qaumun laa nuhasib…” (Kami adalah umat yang tidak melakukan hisab (menghitung-hitungan)). Beliau mengisyaratkan dengan jelas: cukup rukyah saja. 


Ngga perlu kalkulator, tidak perlu sudut elongasi, tidak perlu kemiringan 3 derajat atau 6,4 derajat yang baru muncul di abad modern ini. All crap and nonsense...


Tapi lihat sekarang! Ormas-ormas so-called “progresif” ini terus merongrong pemerintah dan umat. Mereka mengangkut astronom-astronom yang buta syariah, yang tidak paham fiqih, tidak paham hadits, tapi pintar bicara derajat, konjungsi, dan radius hilal. Mereka buat syarat-syarat rumit yang ngga pernah diterapkan di zaman Salaf dulu.  


Akhirnya? Umat yang dulu bersatu dalam kemudahan rukyah, kini terpecah belah. Satu kelompok puasa 29 hari, kelompok lain 30 hari. Satu Idul Fitri hari ini, yang lain besok. 


Semua demi ego “ilmiah” dan “modernisasi”. Subhanallah! Apakah ini kemudahan yang diajarkan Nabi ﷺ, atau justru kesusahan buatan manusia yang haus pengakuan? Apa yang bikin beda mereka sama para Tiktoker pencari "LIKE"?


Ini bukan soal sains versus agama. Ini soal taat pada Sunnah. Kalau hisab memang lebih baik, mengapa Rasul ﷺ tidak ajarkan? Kenapa para sahabat dan ulama dulu yang pada bisa hisab ngga pakai?


Mengapa para ulama tiga abad pertama – yang lebih dekat dengan wahyu – tidak pakai? 


Karena Nabi ﷺ tahu: rukyah itu MUDAH, UNIVERSAL, dan MENYATUKAN UMAT. 


Hisab yang rumit ini hanya bikin umat bingung, ribut, dan akhirnya… terpecah. Seperti dendangan R.E.M awal 90'an.... "I am losing my religion.."


Susah orang percaya sama agama gara-gara kelakuan mereka yang punya gerombolan.


Dan betapa sendirinya Indonesia dengan “konsep rukyah campur hisab” ini dibanding negara lain!


Lihat fakta globalnya, wahai saudara. Sementara ormas-ormas kita di sini sibuk memasarkan hisab dengan segala kriteria rumitnya (imkan rukyah, sudut elongasi, kemiringan derajat), negara-negara lain sudah lebih “tegas” dalam pendekatannya – entah full hisab atau full rukyah – tanpa perpecahan internal sebesar di sini.


- Turki dan Singapura sudah full hisab murni sejak lama. Mereka pakai perhitungan astronomi saja, tanpa rukyah fisik sama sekali. Tidak ada sidang isbat, tidak ada ribut-ribut ormas. Semua sudah “modern” dan terjadwal rapi. Tapi apakah umat mereka lebih bahagia? Justru mereka tinggalkan Sunnah Nabi secara terang-terangan. Yang kaga puasa banyak disono...


- Arab Saudi (dan banyak negara Teluk yang mengikutinya) masih pegang rukyah resmi – pengumuman berdasarkan kesaksian hilal, meski kadang dibantu observatorium. Banyak negara seperti UAE, Qatar, Bahrain mengikuti Saudi. Mereka relatif lebih “satu suara” dibanding kita.


- Pakistan, India, Bangladesh pakai rukyah lokal murni. Mereka observasi hilal di wilayah masing-masing, tanpa kriteria derajat rumit yang dipaksakan. Hasilnya? Mereka lebih dekat dengan Sunnah Nabi, meski kadang beda satu hari dengan Saudi.


Sementara Indonesia? Kita “sendiri” dalam arti paling tragis: pakai hybrid (hisab untuk “imkan rukyah” + rukyah aktual via Sidang Isbat). Kemenag, NU, dan sebagian ormas pakai kriteria 3°-6,4° yang baru-baru ini, Muhammadiyah pakai hisab wujudul hilal murni. Hasilnya? Tiap tahun ada potensi perbedaan internal yang tak ada di negara lain sebesar ini. Malaysia dan Brunei mirip kita (MABIMS criteria), tapi perpecahan ormas di Indonesia jauh lebih riuh. Kita seperti “terjebak di tengah”: tidak full rukyah seperti Salaf, tidak full hisab seperti Turki, tapi paling ramai ributnya.


Inilah akibatnya ketika ormas-ormas “hisab” merongrong: Indonesia menjadi contoh paling “sendiri” dalam perpecahan umat. Negara-negara lain sudah memilih satu jalur (entah rukyah atau hisab) dan relatif lebih kompak. Kita? Masih digoyang ego modernisasi, melupakan kemudahan yang Nabi ﷺ berikan.


Brothers and Sisters, kenapa ngga ikut Sunnah murni aja: rukyah sederhana, tanpa embel-embel derajat dan konjungsi. Itu yang menyatukan? 


Itu yang diajarkan para pendahulu Salafus Saleh. Jangan biarkan ego segelintir orang memecah belah kita demi “kriteria ilmiah” yang tak pernah ada di zaman Nabi ﷺ.


Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah selamatkan umat ini dari perpecahan. 


Sumber: https://www.facebook.com/share/1Ff26G2rBa/

Tags

Newsletter Signup

Barang siapa yang penampilan dhohirnya lebih berbobot daripada batinnya maka akan ringan timbangan nya nanti di hari kiamat.

Posting Komentar